Pages

ShareThis

Sabtu, 31 Desember 2011

Enam JTDK dan MRT Solusi Atasi Macet

108CSR.com - Di tengah berbagai kendala dan kebijakan yang tumpang tindih dengan pemerintah pusat, Pemprov DKI Jakarta terus mencari solusi untuk mengatasi masalah kemacetan kota. Tak pelak, berbagai program dibuat untuk mengatasi hal tersebut mulai dari busway, jalan susun, dan membangun enam ruas jalan tol dalam kota (JTDK) hingga kereta bawah tanah atau subway atau Mass Rapid Transit (MRT).

Penyediaan jalan dan ketersediaan moda angkutan massal memang dua instrumen penanganan masalah kota ini. Di tengah ketidakmampuan pemerintah daerah membatasi jumlah kendaraan. Mengingat regulasi pertumbuhan kendaraan berada di tangan pemerintah pusat.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) DKI Jakarta, Sarwo Handayani, mengatakan pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota tersebut telah tercantum dalam Perda RTRW DKI 2011-2030. Selain mengurai kemacetan, lanjutnya, dengan adanya enam ruas jalan tol, maka volume jalan di ibu kota akan bertambah sebanyak 2,8 persen menjadi 10 persen dari total luas wilayah kota Jakarta 650 kilometer persegi. Dari semula hanya 7,2 persen.

Menurutnya dengan pengesahan Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (Perda RTRW) DKI 2011-2030 membuka peluang besar bagi pembangunan enam ruas JTDK Jakarta. Karena selama ini, rencana Kementerian Pekerjaan Umum (Kemenpu) melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) yang akan melakukan prakualifikasi mega proyek senilai Rp40 triliun ini terganjal pengesahan Perda RTRW.

Pemprov DKI akan mengikuti tender fisik tersebut, dengan membentuk konsorsium melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI yakni PT Jakarta Propertindo, PT Pembangunan Jaya. Konsorsium BUMD tersebut dinamakan PT Jakarta Tollroad Development (JTD). Kedepan, jika memenangi tender fisik tersebut, PT JTD yang akan membangun enam ruas JTDK itu.

"Sepertinya, sekarang sudah mau masuk tahap tender, sehingga pembangunan bisa dilaksanakan secepatnya. Proses prakualifikasi hingga tender akan dilakukan pemerintah pusat melui BPJT Kemenpu," ujar Sarwo Handayani.

Nantinya, keenam ruas JTDK Jakarta akan dibangun dan dibagi dalam empat tahap. Tahap pertama, dibangun dua ruas jalan tol yakni, koridor Semanan-Sunter sepanjang 17,88 kilometer dengan nilai investasi Rp9,76 triliun dan koridor Sunter-Bekasi Raya sepanjang 11 kilometer dengan nilai investasi Rp7,37 triliun.

Tahap kedua, akan dibangun dua ruas jalan tol yaitu koridor Duripulo-Kampungmelayu sepanjang 11,38 kilometer dengan nilai investasi Rp5,96 triliun dan Kemayoran-Kampungmelayu sepanjang 9,65 kilometer dengan investasi Rp6,95 triliun.

Kemudian tahap ketiga akan dibangun ruas jalan tol dalam kota koridor Ulujami-Tanahabang sepanjang 8,27 kilometer dengan nilai investasi Rp4,25 triliun. Terakhir, tahap keempat dibangun ruas jalan tol dalam kota koridor Pasarminggu-Casablanca sepanjang 9,56 kilometer dengan investasi Rp5,71 triliun.

Sementara itu, untuk pembangunan MRT hingga saat ini telah masuk dalam tender konstruksi. Sebanyak sepuluh konsorsium siap bersaing merebut proyek senilai Rp13,5 triliun untuk MRT tahap pertama (Lebak Bulus-Bunderan HI).

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengungkapkan Sambil menunggu proses pelaksanaan tender konstruksi sipil, Fauzi telah menginstruksikan PT MRT Jakarta agar pelaksanaan awal pekerjaan persiapan konstruksi dapat dilaksanakan selambat-lambatnya April 2012. Berupa kegiatan-kegiatan seperti pelebaran Jalan Fatmawati, relokasi utilitas, relokasi Terminal Lebakbulus atau pengaturan rute angkutan umum di Terminal Lebakbulus, pemindahan beberapa halte busway, depo material dan peralatan konstruksi.

Sementara itu, Direktur Utama PT MRT Jakarta Tribudi Rahardjo, mengatakan peserta yang lolos prakualifikasi adalah para kontraktor yang memenuhi persyaratan yang dicantumkan dalam dokumen prakualifikasi yang mengacu pada JICA guidelines (ketentuan pemberi pinjaman). Termasuk didalamnya pengalaman teknis serta kemampuan finansial.

"Pengalaman teknis yang disyaratkan antara lain memiliki pengalaman dalam proyek urban railway dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dan pengalaman di bidang tunneling untuk calon kontraktor yang mengikuti prakualifikasi segmen bawah tanah," ucapnya.

"Untuk rencana pembangunan MRT Jakarta tahap I, kita sudah mencapai kemajuan yang sangat berarti yaitu terbitnya No Objection Letter (NOL) dari JICA atas daftar pendek (shortlist) para calon kontraktor pekerjaan sipil MRT Jakarta tahap I yang telah dilakukan pada 7 Desember 2011 lalu," ujarnya.

Ia menambahkan, NOL tersebut akan ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan seperti hasil prakualifikasi calon kontraktor pekerjaan sipil diumumkan PT MRT Jakarta pada 8 Desember 2011 dan dapat dilihat di situs resmi PT MRT Jakarta, www.jakartamrt.com. Kemudian, tender dapat segera dimulai dan ditargetkan penandatanganan kontrak dilaksanakan pada September 2012 mendatang.

Setelah MRT Koridor I selatan-utara tahap I (Lebakbulus-Bundaran Hotel Indonesia) selesai akan dilanjuti dengan Koridor II timur-barat yang masih dalam tahap pembahasan.

Selain itu juga PT Kereta Api Indonesia akan membangun jalur selatan kereta menuju bandar udara. Jalur tersebut dimulai dari Stasiun Duri sampai Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. "Akhir 2013 sudah bisa beroperasi," kata Direktur Utama PT KAI Ignatius Jonan dalam jumpa pers di Stasiun Gambir, Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Jonan, pihaknya memanfaatkan jalur lama yang sudah ada, yaitu via Tangerang. Pembangunan itu, kata dia, dimungkinkan dilakukan setelah ditekennya Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2011 tentang Bandara Soekarno-Hatta dan Kereta Rel Listrik Jabodetabek.

Selanjutnya Stasiun Duri akan diperbesar untuk menampung lonjakan jumlah penumpang. "Karena akan jadi stasiun transit utama kereta bandara," katanya.

Dalam pembangunan proyek tersebut, kata dia, pihaknya telah menyeleksi konsultan, disusul studi kelayakan selama enam bulan. Dan, dua tahun ke depan, jalur selatan sudah bisa beroperasi.

Pembangunan kereta bandara jalur selatan ini berbeda dengan pembangunan kereta bandara oleh pemerintah pusat.

Seperti diberitakan, pada 10 November lalu, Kementerian Perhubungan meneken perjanjian kerja sama pembangunan kereta bandara dengan PT SMI.

Proyek tersebut akan membangun jalur baru dari Stasiun Manggarai melewati Tanjung Priok, bersisian dengan jalan tol menuju bandara. Namun, untuk proyek jalur utara, penyusunan dokumen lelang baru akan dilakukan tahun depan. Proses lelang digelar pada 2013. Kemudian pada 2014 baru dilakukan pembangunan fisik.

Jonan optimistis jalur selatan kereta bandara akan lebih dulu beroperasi ketimbang jalur utara. Dana investasi pembangunan jalur kereta bandara dan jalur lingkar Jabodetabek mencapai Rp 8 triliun. Pembiayaannya sendiri berasal dari 85 persen pinjaman dan 15 persen dari kas sendiri. "Rp 2,25 triliun dari kami," katanya.

Jonan mengatakan ditekennya Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2011 mempercepat target pencapaian PT KAI dalam mengangkut 1,5 juta penumpang Jabodetabek dalam sehari per 2018. "Perbaikan prasarana sekarang jadi wewenang kami, tak perlu menunggu APBN," katanya. (jek)

sumber

komen ts: semoga rencana2 bs direncanakan dengan matang sehingga tidak membuang2 dana saja :D

gebergeber 01 Jan, 2012

Admin 01 Jan, 2012
-
Source: http://situs-berita-terbaru.blogspot.com/2012/01/enam-jtdk-dan-mrt-solusi-atasi-macet.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.