Pages

ShareThis

Jumat, 20 April 2012

Inilah Makna Hari Kartini Bagi Iti dan Nova

Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

JAKARTA – Politiskus Partai Demokrat Nova Riyanti Yusuf berharap para koleganya yang sedang duduk di kursi parlemen DPR RI tidak hanya sebagai pemanis. Namun, dia berharap teman-temannya semakin berjuang untuk mendapatkan posisi penting di Gedung DPR.  
“Spesifik untuk politikus perempuan di DPR, semoga bukan cuma pemanis superficial, pencapaian quota, tetapi bisa berjuang (dan dipercaya dengan kesempatan) untuk semakin banyak menduduki posisi-posisi strategis di parlemen,” ungkap Nova kepada okezone, Sabtu (21/4/2012).
 
Dia menolak keras bahwa keberadaan perempuan di parlemen lantaran adanya sistem kuota. Padahal kata dia, keberadaan politik perempuan adalah keharusan.
 
“Jangan lupa untuk muncul dengan perjuangan spesifik di parlemen. Konsepsi yang salah bahwa dengan kuota, perempuan diberikan kesempatan. Harusnya eksistensi politik perempuan, adalah sesuatu yang mutlak ada,” kata dia.
 
Kedepan, anggota Komisi IX ini memimpikan tak ada lagi sistem kuota dalam Undang-Undang (UU) Pemilu sehingga kesetaraan benar-benar terjadi. Apalagi, saat ini secara kuantitas dan kualitis perempuan di parlemen sudah signifikan adanya.
 
“Ada atau tidak adanya kuota, saya tidak sabar suatu ketika UU pemilu tidak lagi bahas kuota perempuan, karena jumlah perempuan di parlemen signifikan secara kualitas dan kuantitas,” tandasnya.
 
Justru penilaian berbeda datang dari anggota Komisi IV Fraksi PD DPR RI, Iti Octavia Jayabaya. Menurut dia, sudah banyak kemajuan perempuan Indonesia yang dicapainya justru karena kuota 30 persen.
 
“Secara umum sudah banyak kemajuan yang sudah dicapai oleh perempuan Indonesia sekarang, seperti mengisi ruang publik atau tempat-tempat strategis di negara RI layaknya sebagai gubernur, anggota DPR/MPR dan pejabat tinggi lainnya yang didorong oleh affirmative action 30 persen harus diisi perempuan,” kata dia.
 
Meskipun kata dia, di sisi lain juga masih banyak ketimpangan seperti ketimpangan kesempatan mengenyam pendidikan Perguruan Tinggi (PT) antara perempuan dan laki-laki. Hal semacam itu menjadi tanggung jawab semua elemen untuk memperjuangkannya.
 
“Akan tetapi beberapa hal kita masih dihadapkan pada persoalan ketimpangan gender misalnya, rasio pendidikan di tingkat PT yang enggak seimbang, angka kematian ibu yang masih tinggi, angka buta huruf pada perempuan juga masih tinggi, hal ini masih harus diperjuangkan oleh kaum perempuan dari semua kalangan,” jelasnya.
 
Bagi Sekretaris Departemen Kependudukan dan Statistik DPP PD itu, semangat perjuangan sosok Kartini harus menjadi panutan bagi semua perempuan untuk meningkatkan kualitasnya dalam menghadapi era modern.
 
“Perjuangan Kartini tentunya harus menjadi tauladan bagi perempuan untuk meningkatkan kualitas dan kapabilitasnya dalam menyongsong masa depan di era globalisasi ini,” tukasnya.
 

(Munir)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.