Pages

ShareThis

Selasa, 24 April 2012

Pakar Amerika Meneliti dan Membukukan Dangdut


KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOPenonton berjoget diatas panggung saat Diana Sastra tampil menghibur dalam acara sunatan di Desa Pawidean, Kecamatan Jatibarang, Cirebon, Jawa Barat, Senin (25/7/2011). Mereka yang berjoget itu tak sungkan memberi saweran uang kepada penyanyi idolanya.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Musik Dangdut sangat populer di Indonesia. Sejak kemunculannya di tahun 50-an lewat orkes melayu, hingga saat ini, musik yang identik dengan gendang dan suling ini mengalami pasang surut. Dinamika musik dangdut ini menarik minat peneliti asal Amerika untuk melakukan penelitian dan menuangkannya dalam sebuah buku, yang diberi judul Dangdut Stories.

Bermula dari kecintaannya terhadap musik yang dulunya pernah dianggap sebagai simbol bagi kaum marginal Prof. Andrew Weintraub sejak tahun 1984 saat ia masih kuliah program sarjana melakukan penelitian terhadap musik Dangdut. Penelitian terus dilakukannya hingga ia menjadi guru besar musik pada Pittsburgh University, Amerika Serikat.

Dari penelitian yang dilakukannya Andrew berpendapat sebagaimana jenis musik lain dangdut terus berproses mengikuti perubahan selera masyarakat, sehingga menuntut ide-ide kreatif para senimannya .

"Musik selalu berproses. Mengikuti lingkungan dan keadaan sosial yang berubah. Ide-ide pun harus berubah. Selalu ada proses," kata Andrew dalam peluncuran buku hasil karyanya yang berjudul 'Dangdut, Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia' di sekolah Pascasarjana, Selasa (24/4/2012).

Buku tersebut merupakan hasil terjemahan dari buku aslinya 'Dangdut Stories'. Dalam buku tersebut, Andrew banyak bercerita perjalanan musik dangdut sejak kemunculannya di era 50-an dan hingga perkembangannya hingga kini. Tak ingin bukunya mirip sejarah kontemporer, Andrew juga menyertai hasil wawancara dengan para penyanyi dangdut yang pernah terkenal di eranya, seperti Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Elia kadam, hingga Inul Daratista.

Dalam buku tersebut Andrew mempersoalkan anggapan bahwa dangdut adalah musik nasional Pasalnya musik ini hanya banyak digemari masyarakat di kawasan Indonesia bagian barat. Sementara di Indonesia bagian timur, dangdut tidak begitu digemari.

Sementara staf pengajar Prodi Kajian Budaya Media Sekolah Pascasarjana UGM Prof. Dr. Faruk HT, mengatakan dangdut selalu mengalami rezimentasi. Fenomena dangdut koplo yang saat ini muncul, bukan merupakan jenis dangdut daerah melainkan keinginan untuk menampilkan konsep dangdut yang berbeda.

"Bukan meliuk atau tidaknya sang penyanyi, namun bagaimana musik itu menjadi berbeda dan orang merasakan perbedaan itu," kata Faruk.

Pro dan kontra terhadap musik dangdut, lanjut Faruk akan terus mewarnai musik tersebut. Hal itu tidak lepas dari penampilan goyang si biduan yang dianggap seronok bagi kelompok tertentu. Tapi dimaklumi bagi kelompok lain yang berpendapat penampilan tersebut memberikan semangat bagi para penonton.

"Alhasil, musik dangdut masih akan mengalami naik turun pamor yang menyesuaikan selera masarakat dan bergantung pula pada ide-ide kreatif para seniman dangdut itu sendiri," kata Faruk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.