Pages

ShareThis

Kamis, 03 Mei 2012

Jamin Keamanan, Pemprov Bali Beli Alat Detektor Buatan Amerika

DENPASAR- Pemerintah Provinsi Bali rencananya akan melakukan pembelian dua alat detektor x-ray gamma seharga Rp60 miliar. Pembelian alat ini untuk memberikan jaminan keamanan bagi wisatawan dan masyarakat.

Keseriusan memberi perlindungan keamanan kepada wisatawan dan warga di Bali, ditunjukkan dengan memasang anggaran APBD tahun 2012 senilai Rp60 miliar.

Ketua Komisi I DPRD Bali I Made Arjaya mengatakan, anggaran dalam jumlah besar itu, untuk pengadaan alat pendeteksi keamanan karena dipandang sangat penting.

"Keamanan tentu saja menjadi faktor utama di bidang jasa kepariwisataan," kata Arjaya saat rapat dengar pendapat Komisi I dengan jajaran Polda Bali di DPRD Bali, Kamis, (3/5/2012).

Menurutnya, peralatan canggih bikinan Amerika saat ini tengah proses tender. Kecanggihan dan operasional alat tersebut, akan dipresentasikan.

Nantinya, alat detektor khusus ditempatkan di pelabuhan antarpulau seperti Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana dan Pelabuhan Padangbai, Kabupaten Karangasem.

Alat tersebut nantinya bisa dipindahkan atau digunakan di tempat lain seperti di Nusa Dua jika ada kegiatan besar bersakal internasional. Kehadiran alat tersebut diharapkan dapat mendukung tugas operasionalnya kepolisian dalam menciptakan keamanan di masyarakat. Juga bisa menangkal masuknya teroris maupun barang-barang berbahaya seperti narkoba.

Kemampun alat alat detektor canggih misalnya mampu mendeksi secara detil hingga isi mobil bok atau truk kontainer yang melewati alat tersebut.

"Memang alat detektor canggih tersebut tergolong mahal namun hal itu semata demi tetap mewujudkan keamanan dan kenyamanan wisatawan dan masyarakat," katanya lagi. 

Di kesempatan sama, Kepala Biro Operasi Polda Bali Kombes I Gede Alit Widana memaparkan, kasus kriminal triwulan pertama sebanyak 1.238 kasus.

Dari jumlah itu  65 persen kasus atau sebanyak 1.046 kasus bisa ditangani kepolisian. "Artinya, minimal perhari bisa terjadi rata-rata 3 kasus," sebut Widana.

Namun selain itu, masih banyak kasus lainnya yang tidak tertangani aparat sehingga dalam skala keamanan dan ketertiban tetap dirasa mengganggu.

(crl)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.